oleh

BALI TELAH MELAKUKAN BERBAGAI PERSIAPAN UNTUK MENYAMBUT KEDATANGAN VAKSIN COVID-19

DENPASAR,LOKADEWATA.COM – Kegiatan vaksinasi Covid-19 akan segera dilakukan di Bali. Saat ini pemerintah provinsi Bali telah menyiapkan beberapa logistik untuk menyambut kedatagan vaksin Covid-19 tersebut. Alat penyimpanan vaksin mulai dari yang berkapasitas besar (cold room) sampai yang berkapasitas kecil juga telah disiapkan.

Total ada empat cold room yang disiapkan dan tersebar di pemprov dan tiga kota/kabupaten. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya, menjelaskan jenis-jenis alat penyimpanan vaksin Covid-19 meliputi cold room, lemari es, vaccine carrier, cold box, dan cool pack.

“Jenis alat penyimpanan vaksin Covid-19 berkapasitas besar atau cold room di Provinsi Bali berjumlah 4, yang berada di dua kabupaten dan 1 kota. Di antaranya Kabupaten Jembrana 1 cold room, Badung 1 cold room, dan Kota Denpasar 1 cold room yang berada di RSUP Sanglah. Sisanya lagi berada di Provinsi berjumlah 1 cold room,” ungkap Suarjaya, Minggu (3/1/2020).

Sedangkan untuk lemari es yang akan digunakan juga sebagai alat penyimpanan vaksin, Pemprov Bali telah siapkan sebanyak 287 lemari es di seluruh kabupaten dan kota Provinsi Bali.

Dengan rincian, Kabupaten Jembrana 15 buah, Tabanan 26 buah, Badung 67 buah, Gianyar 31 buah, Klungkung 21 buah, Bangli 18 buah, Karangasem 31 buah, Buleleng 33 buah, Kota Denpasar 40 buah, dan Provinsi 5 buah.

“Sementara untuk tempat penyimpanan vaksin jenis vaccine carrier, Pemprov Bali juga telah menyediakan sebanyak 740 vaccine carrier untuk tempat penyimpanan vaksin Covid-19.”

“Dengan rincian Kabupaten Jembrana 36 buah, Tabanan 87 buah, Badung 131 buah, Gianyar 120 buah, Klungkung 21 buah, Bangli 91 buah, Karangasem 124 buah, Buleleng 96 buah, Kota Denpasar 29 buah, dan Provinsi 5 buah,” lanjutnya.

Untuk tempat penyimpanan jenis cold box, Pemprov Bali telah siapkan sebanyak 53 buah. Rinciannya, Kabupaten Jembrana 2 buah, Tabanan 2 buah, Badung 5 buah, Gianyar 20 buah, Bangli 5 buah, Karangasem 2 buah, Buleleng 2 buah, Kota Denpasar 10 buah, dan Provinsi 5 buah.

Terakhir untuk tempat penyimpanan cool pack, Pemprov Bali telah siapkan 3.140 cool pack untuk tempat penyimpanan vaksin Covid-19. Rinciannya, Kabupaten Jembrana 144 buah, Tabanan 348 buah, Badung 524 buah, Gianyar 480 buah, Klungkung 84 buah, Bangli 364 buah, Karangasem 496 buah, Buleleng 384 buah, Kota Denpasar 116 buah, dan Provinsi 200 buah.

Suarjaya menambahkan, intinya pada logistik sudah cukup. Saat ini pihaknya telah siap untuk melakukan kegiatan vaksinasi. “Tinggal menunggu jadwal dari pusat saja,” tandasnya.

Dikawal Polda

Jika nantinya vaksin Covid-19 jenis Sinovac ini telah tiba di Bali, Pemprov akan menyimpan vaksin di alat penyimpanan terbesar atau cold room yang berada di Dinas Kesehatan Provinsi Bali.

“Seperti biasa. Tidak ada yang khusus. Kami simpan di cold room provinsi lanjut nanti didistribusikan ke kabupaten atau kota di Bali,” kata Suarjaya.

Sementara untuk proses pengiriman vaksin dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Tuban, Badung, ke tempat penyimpanan di Renon, Denpasar, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Polda Bali.

“Untuk proses pengiriman vaksin dari bandara ke tempat penyimpanan akan dikawal nanti. Kami koordinasi dengan Polda Bali,” terangnya. Saat ini Pemprov Bali masih menunggu distribusi vaksin dari pemerintah pusat. Suarjaya mengatakan vaksin akan dikirim oleh Biofarma pada Senin (4/1/2020) hari ini.

“Kementerian Kesehatan segera mendistribusikan vaksin ke seluruh provinsi. Vaksin akan dikirim oleh Biofarma mulai tanggal 4 Januari,” katanya pada Sabtu (2/1/2020). Suarjaya belum tahu pasti kapan vaksin Covid-19 ini tiba di Bali.

“Kami berharap Bali secepatnya mendapatkan vaksin untuk Covid-19,” katanya. Suarjaya menambahkan, untuk kegiatan vaksinasi serentak akan dilakukan di seluruh fasilitas kesehatan (faskes) yang ada di Indonesia mulai 22 Januari 2020.

Waktu 15 Bulan

Sementara itu, Juru Bicara Vaksin Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tirmidzi, mengatakan Indonesia menargetkan vaksinasi akan dilakukan selama 15 bulan yang akan dihitung mulai dari Januari 2021 hingga Maret 2022.

Pernyataan tersebut sekaligus meralat pernyataan Menkes Budi Gunadi Sadikin yang sebelumnya menyebut proses vaksinasi akan dilakukan selama 3,5 tahun.

Dalam rentang waktu 15 bulan tersebut, Siti menjelaskan pelaksanaan vaksinasi akan dilakukan secara bertahap dalam 2 periode. Periode pertama dilakukan di bulan Januari hingga April 2021. Pada periode ini akan diprioritaskan kepada 1,3 juta tenaga kesehatan dan 17,4 juta petugas publik yang ada di 34 provinsi.

Untuk periode kedua dilakukan selama 11 bulan yang akan dimulai pada April 2021 hingga Maret 2022 yang menjangkau jumlah masyarakat sisa dari periode pertama.

“Kita ketahui pelaksanaan vaksinasi ini akan membutuhkan waktu 15 bulan yang akan berlangsung selama 2 periode,” kata Siti Nadia dalam konferensi pers daring, Minggu (3/1/2020).

Siti Nadia menjelaskan yang dimaksud Menkes terkait waktu 3,5 tahun adalah proyeksi penyelesaian vaksinasi untuk seluruh dunia. “Indonesia sendiri kami tegaskan bahwa kita akan membutuhkan waktu 15 bulan seperti yang sudah pernah disampaikan Bapak Menteri pada saat konferensi pers di Istana sebelumnya,” ujar Siti Nadia.

Siti mengatakan rencana vaksinasi merupakan momentum penting dalam upaya keluar dari krisis akibat pandemi Covid-19. Selama vaksinasi, protokol kesehatan juga perlu untuk terus dijalankan untuk melindungi tenaga kesehatan dan tenaga pelayanan publik yang memiliki resiko terpapar lebih tinggi.

“Kami berikan apresiasi kepada tenaga kesehatan dan petugas publik dengan memprioritaskan mereka untuk menjadi kelompok pertama yang akan menerima vaksin bersama pemerintah,” kata Siti.

Ia mengatakan vaksin sangat penting, tidak hanya untuk melindungi tenaga kesehatan maupun petugas pelayanan tersebut tapi juga akan melindungi keluarga mereka dan masyarakat secara luas.

Sehingga para tenaga kesehatan tersebut dapat segera pulang  dan bertemu dengan keluarga. “Pentingnya proses vaksinasi, maka pemerintah berupaya sekuat tenaga untuk menghadirkan vaksin yang aman, efektif dan sesuai saran para ahli untuk diberikan kepada masyarakat luas secara cuma-cuma (gratis),” ujarnya.

Bantahan Bio Farma Terpisah, Bio Farma secara tegas membantah bahwa vaksin Covid-19 yang akan didistribusikan kepada masyarakat merupakan vaksin uji klinis seperti yang ramai diberitakan di media massa.

Hal ini ditegaskan oleh Juru Bicara Vaksin Covid-19 dari PT Bio Farma, Bambang Herianto, dalam konferensi pers virtual, kemarin. “Pemberitaan yang menyebutkan bahwa vaksin Covid-19 yang akan digunakan adalah vaksin untuk uji klinis atau ‘only for clinical trial’ sebagaimana yang tertulis pada kemasan vaksin adalah tidak benar,” kata Bambang.

Ia mengatakan kemasan vaksin yang akan didistribusikan ke masyarakat akan berbeda dari kemasan vaksin yang baru datang ke Indonesia beberapa waktu lalu. Kemasan vaksin Covid-19 untuk uji klinis menggunakan kemasan prefilled syringe atau biasa disingkat (PFS), dimana wadah vaksin dan jarum suntik dalam satu kemasan.

Sedangkan vaksin yang akan digunakan dalam program vaksinasi nanti akan dikemas dalam bentuk filled single dose atau dosis tunggal. “Jadi ada perbedaan. Jadi sudah pasti tidak ada penandaan ‘only or clinical trial’ karena sudah dapat izin penggunaan dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM),” kata Bambang.

Bambang menegaskan untuk program vaksinasi nantinya akan menggunakan vaksin yang telah mendapat izin penggunaan dari BPOM. Vaksin yang akan didistribusikan juga telah dilakukan serangkaian pengujian mutu, baik yang dilakukan Bio Farma maupun Badan POM untuk menjaga kualitas dan keamanan produk vaksin.

“Jadi vaksin covid-19 yang saat ini sudah ada di Bio Farma dan akan digunakan untuk program vaksinasi nantinya akan menggunakan vaksin yang mendapat izin penggunaan dari Badan POM, sehingga kemasannya pun akan berbeda dengan vaksin yang digunakan untuk keperluan uji klinis,” katanya.

“Vaksin yang akan digunakan untuk program vaksinasi (akan didistribusikan) setelah ada persetujuan penggunaan yang dikeluarkan oleh Badan POM dan bukan sebagai vaksin untuk uji klinis,” ujarnya.

Bambang dalam kesempatan tersebut menjelaskan soal vaksin Covid-19 buatan Sinovac mulai didistribusikan ke 34 provinsi. “Betul, jadi mulai hari ini vaksin akan mulai kita distribusikan ke 34 provinsi,” kata dia. (DP/LD)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *