oleh

LESTARIKAN ENDEK BULELENG, UNDIKSHA REVILASISI TEKNOLOGI PERWARNAAN

BULELENG,LOKADEWATA.COM – Membantu usaha tenun yang dijalankan masyarakat Buleleng, Akademisi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) melakukan revilasisi pewarnaa bahan dengan menggunakan teknologi pewarnaan fiksator nanopasta. Dilakukannya revitalisasi ini sebagai upaya untuk mengembalikan kejayaan tenun khas Buleleng dan bisa berdaya saing secara ekonomi dan budaya.

Selain permasalahan bisnis, pola pewarnaan menjadi salah satu kendala dalam usaha pertenunan. banyak pewarnaan sintetis yang beredar di pasaran, itu tidak membuat produksi kain tenun menjadi lebih baik. Selain itu, berpotensi mencemari lingkungan.

Pertenunan Artha Dharma di Desa Sinabun, Kecamatan Sawan, Buleleng menjadi salah satu mitra industri dari Undiksha yang mewujudkan teknologi pewarnaan fiksator nanopasta ini.

Sejumlah akademisi Undiksha, Dr.rer.nat. I Wayan Karyasa, S.Pd., M.Sc., I Gede Putu Banu Astawa, S.T., M.Ak., I Made Ardwi Pradnyana, S.T., M.T dan Ni Made Vivi Oviantari, S.Si., M.Si melakukan revitalisasi ini melalui program pemberdayaan masyarakat UKM Indonesia Bangkit 2020. Tim tersebut dipercaya oleh Direktorat Riset dan Pemberdayaan Masyarakat, Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristek/BRIN menjalankan program tersebut.

Ketua tim, I Wayan Karyasa, menjelaskan masalah yang membelit sektor industri tersebut terdiri beberapa aspek. Pertama, yang berkaitan dengan aspek produksi. Bahan baku benang, terutama benang sutera alam semakin mahal dan sulit diperoleh, namun di pasaran banyak beredar sutera sintetik dengan kualitas hasil tenunan yang kurang baik.

Selain itu, pewarnaan masih bergantung dengan warna sintetik. Disisi lain, harga warna sintetik dan bahan-bahan kimia pendukungnya semakin mahal. Limbah pencelupan yang dihasilkan industri ini juga belum mampu terolah secara maksimal, sehingga berpotensi mencemari lingkungan.

Kedua, berkaitan dengan aspek manajemen usaha. Omzet penjualan produk yang menurun drastis, menyebabkan cash-flow perusahaan memprihatinkan dan berimbas pada pengurangan tenaga kerja.

Ketiga, aspek re-orientasi dan pengembangan usaha pertenunan sebagai antisipasi penurunan daya beli masyarakat dan pola komsumsi masyarakat yang lebih fokus pada pangan dan kesehatan.

Tiga aspek permasalahan itu ditangani melalui program bertajuk “Membangkitkan Kerajinan Tenun Khas Buleleng Melalui Revitalisasi Teknologi Pewarnaan Menggunakan Fiksator Nanopasta Anorganik dan Penguatan Branding Industri Kreatif Ramah Lingkungan”.

Karyasa menjelaskan teknologi fiksator nanopasta anorganik merupakan teknologi berwujud pasta dengan ukuran partikel nanometer yang terbuat dari campuran silika abu sekam padi, abu vulkanik Gunung Agung, dan bahan tambahan, yaitu bubuk terusi atau kupri sulfat dan bubuk tunjung atau ferrosulfat.

Nanopasta ini berperan meningkatkan kekuatan ikatan antara molekul zat warna dengan molekul serat dari benang baik katun maupun sutera pada saat proses pencelupan sehingga warna yang terikat pada benang tidak mudah luntur.

“Nanopasta ini telah berhasil dikembangkan sejak tahun 2019 meniru komposisi kimia dari lumpur Nunleu yang digunakan masyarakat NTT. Lalu tahun 2020 ini dikembangkan dari lumpur abu vulkanik Gunung Agung ditambahkan nanosilika sekam padi untuk memperkuat serat sehingga tidak mudah putus saat benang ditenun nantinya,” jelasnya.

Sejalan dengan terobosan inovatif itu, tim pengabdi Undiksha bersama dengan mitra industri Pertenunan Artha Dharma yang dikelola Ketut Rajin sepakat untuk mengambil langkah lanjutan dengan mewujudkan gagasan untuk memproduksi sendiri benang sutera bekerjasama dengan para peternak ulat sutera dan memintal sendiri. Kerjasama ini juga untuk membangun dan mengoperasikan instalasi pencelupan warna alam dengan teknologi fiksator nanopasta anorganik yang terpadu dengan instalasi pengolahan limbah pencelupan.

Tim melkaukan pendampingan dalam upaya membangun sistem manajemen usaha terpadu dengan manajemen pemasaran berbasis data digital, mengintensifkan promosi online dan menguatkan branding produk tenun yang kembali ke alam dan ramah lingkungan.

Inovasi produk ini juga didukung dengan perubahan dan re-orientasi rencana bisnis dan pengembangan usaha serta pendampingan secara daring penyusunan paket-paket wisata edukasi kerajinan tenun dan paket-paket pendidikan dan pelatihan (diklat) pertenunan.

“Tujuan program ini adalah membangkitkan usaha kerajinan tenun khas Buleleng di Desa Sinabun khususnya Pertenunan Artha Dharma untuk menjadi daya ungkit peningkatan kesejahteraan para pengusaha dan pengerajin tenun,” kata Karyasa.

Lebih lanjut, akademisi bidang kimia ini menyampaikan melalui terobosan-terobosan itu, ditargetkan industri tenun Artha Dharma dapat terus bertahan dan produksinya berkelanjutan. “Melalui program ini, kami berharap tenun khas Buleleng dapat terus lestari,” pungkasnya.(CF/LD)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *