oleh

TEMPAT MELASTI DI BENOA TERWUJUD MURNI ATAS PERJUANGAN GUBERNUR KOSTER BERSAMA WARGA


DENPASAR, LOKADEWATA.COM
—Belakangan ini ramai diwacanakan warga, terkait penataan ruang publik di kawasan Pelabuhan Benoa Denpasar, termasuk ke dalam salah satu tempat melasti bagi umat Hindu. Hal ini ramai diperbincangkan dikarenakan ada pihak yang mengklaim bahwa berkat rekomendasi dan perjuangan pihak tersebut maka tempat melasti umat Hindu di kawasan Benoa dapat dibangun dengan cepat dan tepat waktu. Namun Gusti Putu Budiarta selaku Bendesa Adat Pedungan, segera mebatah semua itu dengan tegas. Kamis (9/4) pagi.

Gusti Putu Budiarta selaku Bendesa Adat Pedungan, menyampaikan bahwa ia bersama maysrakat sekitar telah sejak empat tahun silam memperjuangkan adanya tempat melasti bagi umat Hindu di Benoa, namun selalu gagal. Dan akhirnya pada kepemimpinan Gubernur Bali Wayan Koster, barulah mendapat respon yang baik, dan saat ini pejuangan tersebut dapat terealisasikan.

“Tidak benar jika ada pihak yang menyebut telah mengeluarkan rekomendasi atau lainnya, agar tempat melasti umat Hindu dipercepat pembangunannya. Itu sama sekali tidak benar. Kami sudah sejak empat tahun silam memperjuangkan adanya tempat melasti bagi umat Hindu di Benoa, namun selalu gagal. Dan akhirnya pada kepemimpinan Gubernur Bali Wayan Koster, baru kami mendapat respon baik,” jelas Gusti Putu Budiarta selaku Bendesa Adat Pedungan dengan tegas. Ia juga menerangkan bahwa Gubernur Koster telah mengeluarkan rekomendasi tersebut tahun 2019, sehingga pembangunan tempat melasti umat Hindu dapat dipercepat dengan tujuan mengejar agar warga dapat melakukan melasti pada tahun baru Caka tahun ini.

Gusti Budiarta yang juga Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bali mengungkapkan, dahulu kala masyarakat setempat terbiasa melakukan melasti dan ritual ‘nganyud’ di Pantai Benoa. Ini sudah berjalan secara turun-temurun. Akan tetapi, sejak dibangun akses Pelabuhan Benoa dan jalan tol, mengakibatkan kegiatan ritual warga menjadi terhambat.

Berulang kali warga tanpa kenal lelah memperjuangkan agar tetap memiliki ‘genah’ pemelastian dan penganyudan, namun tak kunjung mendapat respon yang jelas. “Baru kemudian ketika Bali dipimpin oleh Wayan Koster, warga Pedungan mendapatkan sinyal positif untuk mewujudkan harapan yang bertahun-tahun diperjuangkannya,’ ujar Gusti Budiarta, menandaskan.

“Ya, bisa saya katakan hanya Gubernur Koster yang konkret memberikan rekomendasi dan turut memperjuangkan, sebagai wujud kepedulian beliau yang tinggi terhadap desa adat di Bali,” ujarnya seraya menambahkan Wali Kota Denpasar, Wawali Denpasar serta tokoh desa adat lain turut pula berkontribusi memberikan dukungan moril. (PT/LOKA) 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *